Dari Lapangan ke Teknologi: Pengalaman Amanin Mengimplementasikan AI Proctoring
Membangun solusi Artificial Intelligence untuk pengawasan ujian bukan sekadar persoalan membuat sistem yang mampu mengenali wajah atau mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Tantangan sebenarnya muncul ketika teknologi tersebut digunakan dalam situasi nyata. Peserta menggunakan perangkat yang berbeda. Kualitas koneksi internet tidak selalu sama. Jumlah peserta bisa mencapai ribuan orang. Pengawas harus menangani banyak peserta sekaligus. Peserta dapat mengalami kendala teknis. Dan ketika muncul indikasi pelanggaran, penyelenggara membutuhkan bukti yang dapat ditinjau kembali. Di sinilah pengalaman implementasi menjadi sangat penting.
Bagi Amanin, Proktor Amanin tidak lahir sekaligus dalam bentuk seperti sekarang. Produk ini berkembang melalui proses yang panjang: dimulai dari kebutuhan nyata pengguna, diuji dalam berbagai skenario, mendapatkan masukan dari pelanggan, kemudian terus disempurnakan berdasarkan pengalaman di lapangan.
Hingga saat ini, Proktor Amanin telah digunakan oleh berbagai institusi, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), IPB University, Universitas Indonesia (UI), Telkom University, Universitas Terbuka (UT), Telkom ACI, Indomaret, Schoters by Ruangguru, dan sejumlah organisasi lainnya.
Setiap implementasi memberikan pelajaran yang berbeda. Dan justru dari pengalaman-pengalaman itulah Amanin belajar bagaimana AI proctoring seharusnya dibangun.
Berawal dari Satu Persoalan: Bagaimana Membuat Ujian Online Dapat Dipercaya?
Ketika ujian berpindah ke lingkungan online, muncul sebuah persoalan mendasar: Bagaimana memastikan bahwa peserta yang mengikuti ujian benar-benar orang yang terdaftar dan mengerjakan ujian secara jujur?
Pada awal pengembangan Proktor Amanin, kebutuhan tersebut datang dari perguruan tinggi yang ingin meningkatkan keamanan ujian online. Benchmark terhadap solusi yang ada menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan penggunaan AI, khususnya dalam verifikasi identitas dan pengawasan peserta. Dari kebutuhan tersebut, Amanin mulai mengembangkan facial recognition dan berbagai kemampuan monitoring berbasis AI.
Namun dalam perjalanan pengembangan, Amanin menemukan bahwa verifikasi identitas hanyalah awal dari persoalan. Peserta bisa saja lolos verifikasi wajah, tetapi kemudian digantikan oleh orang lain. Ada kemungkinan orang kedua berada di sekitar peserta. Peserta dapat membuka aplikasi lain. Bisa melakukan screenshot. Atau mengakses website yang tidak diperbolehkan. Karena itu, Proktor Amanin kemudian berkembang menjadi sistem yang tidak hanya memeriksa siapa peserta, tetapi juga apa yang terjadi selama ujian.
Dari Facial Recognition hingga Monitoring Aktivitas
Proktor Amanin mengembangkan sejumlah kemampuan untuk memonitor peserta, antara lain facial recognition, multiple face detection, aktivitas browser dan window, copy-paste, screenshot atau screen recording, serta opsi pengawasan oleh AI maupun manusia. Pendekatan ini memberikan perubahan penting dalam proses pengawasan.
Jika pengawasan manual sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk memperhatikan setiap peserta, AI dapat membantu melakukan pengamatan secara konsisten terhadap banyak peserta sekaligus. Sistem juga dapat mencatat aktivitas dan memberikan data yang dapat ditinjau kembali. Dengan demikian, pengawas tidak harus mengandalkan ingatan atau pengamatan sesaat. Mereka memiliki jejak digital dari proses ujian.
Belajar dari Berbagai Jenis Implementasi
Salah satu kekuatan pengalaman Amanin adalah bahwa Proktor Amanin tidak hanya digunakan dalam satu jenis lingkungan. Kebutuhan ujian masuk perguruan tinggi berbeda dengan ujian mahasiswa. Assessment perusahaan berbeda dengan placement test di lembaga pendidikan. Karena itu, setiap implementasi memberikan perspektif yang berbeda mengenai bagaimana AI proctoring seharusnya bekerja.
1. ITB: Belajar Menangani Ujian Berskala Besar
ITB merupakan salah satu pengguna penting dalam perjalanan Proktor Amanin. Proktor Amanin digunakan untuk mengelola ujian penerimaan mahasiswa baru melalui Seleksi Mandiri ITB dan International Undergraduate Program.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sistem mampu digunakan dalam skala besar. Dalam testimonial ITB, disebutkan bahwa sistem pernah digunakan untuk mengelola lebih dari 7.500 peserta dalam satu sesi ujian tanpa masalah berarti. Sistem juga menggunakan bandwidth relatif rendah dan tidak membutuhkan perangkat dengan spesifikasi tinggi.
Pada Seleksi Mandiri 2025, pengalaman implementasi kembali menunjukkan pentingnya otomatisasi verifikasi identitas dan kemampuan pengawasan dalam skala besar. Dalam testimonialnya, ITB menyebut bahwa satu proktor dapat mengawasi hingga sekitar 50 peserta secara simultan, dengan dukungan AI untuk validasi identitas dan deteksi aktivitas mencurigakan.
Dari pengalaman ITB, Amanin belajar bahwa: AI proctoring harus scalable. Teknologi yang hanya mampu bekerja dengan baik untuk puluhan peserta belum cukup untuk kebutuhan seleksi mahasiswa dalam skala nasional.
2. IPB University: Efisiensi Pengawasan dan Verifikasi Identitas
Pengalaman IPB University memberikan perspektif yang sedikit berbeda. Dalam Seleksi Mandiri IPB 2025, Proktor Amanin digunakan untuk membantu meningkatkan integritas dan efisiensi proses ujian. Salah satu kebutuhan utama adalah memastikan bahwa peserta yang mengikuti ujian memang sesuai dengan data yang telah didaftarkan.
Proktor Amanin melakukan verifikasi identitas secara otomatis melalui pencocokan wajah dengan data peserta yang telah diunggah sebelumnya. Menurut testimonial IPB, pendekatan ini lebih efisien dan memiliki risiko kesalahan yang lebih rendah dibandingkan validasi manual.
Yang menarik, pengalaman IPB juga menunjukkan bagaimana AI dapat membantu meningkatkan rasio pengawasan. Dalam implementasi tersebut, satu proktor dapat mengawasi sekitar 65–75 peserta secara efektif. Ini menunjukkan bahwa nilai AI bukan hanya pada kemampuan mendeteksi pelanggaran, tetapi juga pada kemampuannya meningkatkan produktivitas pengawas manusia.
3. Universitas Indonesia: Belajar dari Kompleksitas Implementasi Nyata
Universitas Indonesia memberikan pengalaman lain. Pada SIMAK UI 2025 untuk program Sarjana dan Vokasi, Proktor Amanin digunakan untuk membantu mengurangi risiko kecurangan, termasuk potensi penyalahgunaan AI, sekaligus memungkinkan peserta dari berbagai wilayah mengikuti ujian tanpa harus datang secara fisik ke lokasi tertentu. Namun implementasi tersebut juga menghadapi tantangan teknis yang berasal dari berbagai pihak—institusi, penyedia sistem, maupun peserta.
Menurut testimonial UI, Proktor Amanin mencapai sekitar 80% dari tujuan yang ditetapkan, termasuk dalam validasi identitas, deteksi aktivitas mencurigakan, dan penciptaan lingkungan ujian yang lebih aman dibandingkan ujian tanpa pengawasan. UI juga menyatakan rencana untuk kembali menggunakan Proktor Amanin pada ujian masuk pascasarjana berikutnya.
Bagi Amanin, pengalaman seperti ini sangat berharga. Karena implementasi nyata tidak selalu berjalan seperti demo. Ada perangkat yang berbeda, konfigurasi yang berbeda, kondisi jaringan yang berbeda, dan perilaku pengguna yang tidak selalu dapat diprediksi. Di situlah sebuah produk benar-benar diuji.
4. Telkom University: Efisiensi dan Kemudahan Implementasi
Pengalaman Telkom University memperlihatkan dimensi lain dari AI proctoring: kemudahan operasional. Testimonial dari Telkom University menyebutkan manfaat online proctoring dalam meningkatkan efisiensi pengawasan ujian, terutama untuk ujian berskala besar, sekaligus mengurangi kebutuhan sumber daya fisik seperti jumlah pengawas yang sangat banyak. Sistem juga membantu memonitor perilaku mencurigakan selama ujian.
Dalam implementasi dengan Telkom University, Amanin juga mendapatkan masukan langsung dari tim IT mengenai kemudahan penggunaan, stabilitas server, serta kebutuhan memperbaiki kompatibilitas dengan perangkat Apple.
Bagi pengembang, masukan seperti ini sangat penting. Karena sistem yang bagus bukan hanya sistem dengan AI yang canggih. Sistem juga harus mudah digunakan, stabil, dan kompatibel dengan kondisi nyata pengguna.
5. FTMD ITB: AI Proctoring Bahkan Berguna dalam Ujian di Ruangan
Pengalaman FTMD ITB menunjukkan bahwa AI proctoring tidak selalu identik dengan ujian dari rumah. Proktor Amanin digunakan untuk ujian 220 mahasiswa tingkat tiga yang berlangsung di ruangan. Ujian terdiri dari pilihan ganda dan esai, sementara soal pilihan ganda menggunakan MS Forms sehingga peserta tetap harus terhubung ke internet.
Walaupun ada asisten yang mengawasi secara langsung, pengawasan terhadap aplikasi yang dibuka peserta memiliki keterbatasan jika hanya mengandalkan pengamatan manusia. Proktor Amanin kemudian membantu memonitor:
- aplikasi yang sedang aktif;
- webcam peserta;
- tampilan layar komputer;
- serta aktivitas peserta berdasarkan waktu.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa AI proctoring dapat berfungsi sebagai lapisan pengawasan tambahan, bahkan ketika ujian tetap dilaksanakan secara fisik.
6. Schoters by Ruangguru: Teknologi Harus Didukung Tim yang Responsif
Schoters memberikan perspektif dari lingkungan edtech. Menurut testimonial Schoters, Proktor Amanin dinilai bermanfaat bagi peserta maupun penyelenggara program. Salah satu hal yang diapresiasi adalah responsiveness tim Proktor Amanin, yang memudahkan koordinasi dengan tim operasional Schoters.
Pengalaman ini memperlihatkan satu hal penting: Dalam implementasi teknologi, produk dan service tidak dapat dipisahkan. Ketika sebuah institusi menggunakan teknologi untuk proses yang kritis seperti ujian, mereka tidak hanya membutuhkan software. Mereka membutuhkan partner yang dapat merespons ketika muncul masalah.
7. Adeline Foundation: Pentingnya Data untuk Review Setelah Ujian
Pengalaman dengan Adeline Foundation memberikan perspektif mengenai post-proctoring. Menurut testimonialnya, Proktor Amanin dinilai memiliki integrasi dan fitur yang komprehensif, termasuk kemampuan melakukan pemeriksaan terhadap catatan, kamera, dan screen activity selama maupun setelah ujian. Data tersebut dapat digunakan kembali ketika terdapat dugaan kecurangan dan diperlukan proses review.
Ini menjadi penting karena tidak semua keputusan harus dibuat pada saat ujian berlangsung. Kadang-kadang sebuah aktivitas baru terlihat mencurigakan setelah data dikaji secara lebih lengkap. Karena itu, sistem proctoring yang baik tidak hanya menghasilkan real-time alert, tetapi juga menyediakan evidence untuk proses evaluasi setelah ujian.
Dari Pengalaman Lapangan, Lahirlah Mobile Pairing
Salah satu inovasi Proktor Amanin juga lahir dari pengalaman menghadapi keterbatasan kamera. Kamera laptop tidak mampu melihat seluruh ruangan. Maka Amanin mengembangkan Mobile Pairing, yaitu menghubungkan smartphone peserta sebagai kamera tambahan melalui QR code. Dengan kombinasi kamera laptop dan smartphone, sudut pengawasan dapat diperluas hingga mendekati 360 derajat.
Fitur ini dikembangkan antara lain untuk mengurangi blind spot dan mendeteksi kemungkinan keberadaan orang lain yang berada di luar jangkauan kamera utama.
Ini adalah contoh bagaimana pengalaman implementasi menghasilkan inovasi baru. Masalah di lapangan menjadi input bagi pengembangan produk.
Dari Private Chat Menjadi Integrated Help Desk
Hal yang sama terjadi pada fitur Help Desk. Dalam ujian online, peserta tidak hanya menghadapi risiko kecurangan. Mereka juga menghadapi persoalan teknis. Kamera tidak berfungsi. Internet bermasalah. Peserta tidak memahami prosedur. Atau terjadi persoalan pada perangkat.
Pada awalnya, Amanin menyediakan private chat antara peserta dan proktor. Dalam implementasi nyata, fitur tersebut ternyata banyak digunakan karena peserta membutuhkan bantuan. Karena berbagai masalah yang muncul bersifat teknis, fitur tersebut kemudian berkembang menjadi Help Desk, yang memungkinkan proktor mengundang IT Support ke dalam percakapan yang sama. Dengan demikian, keamanan dan pelayanan peserta tidak berjalan sebagai dua sistem terpisah. Pengawasan tetap berjalan, sementara masalah peserta dapat ditangani tanpa harus keluar dari lingkungan ujian.
Pelajaran Terbesar: Tidak Ada “One Size Fits All”
Dari berbagai implementasi tersebut, Amanin mendapatkan satu pelajaran penting: AI proctoring tidak bisa dibangun dengan pendekatan one size fits all.
Ujian masuk ITB membutuhkan kemampuan menangani ribuan peserta. IPB membutuhkan efisiensi verifikasi dan pengawasan. UI menghadirkan tantangan implementasi pada skala dan kondisi yang kompleks. Telkom University memberikan masukan mengenai kemudahan penggunaan dan kompatibilitas. FTMD ITB menunjukkan kebutuhan monitoring aplikasi dalam ujian yang berlangsung di ruangan. Schoters menunjukkan pentingnya responsiveness dalam mendukung operasional. Adeline Foundation memperlihatkan pentingnya data dan rekaman untuk proses review setelah ujian.
Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses evolusi Proktor Amanin.
Produk yang Berkembang Bersama Penggunanya
Inilah yang membedakan antara sekadar membangun software dan membangun solusi teknologi. Software dapat dibuat di ruang pengembangan. Tetapi solusi lahir ketika software tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata.
Perjalanan Proktor Amanin memperlihatkan pola tersebut. Kebutuhan pengguna → pengembangan teknologi → implementasi → feedback → perbaikan → implementasi berikutnya. Siklus tersebut terus berjalan.
Karena itu, fitur-fitur Proktor Amanin seperti facial recognition, multiple face detection, activity monitoring, AI proctoring, human proctoring, post-proctoring, Mobile Pairing, Help Desk, reporting, hingga integrasi dengan sistem lain bukanlah sekadar daftar fitur.
Masing-masing memiliki konteks dan pengalaman yang melatarbelakanginya. Proktor Amanin sendiri diposisikan sebagai solusi AI-based online exam proctoring untuk menjaga integritas dan keamanan asesmen.
AI, Manusia, dan Pengalaman Lapangan
Pada akhirnya, pengalaman Amanin dalam mengimplementasikan AI proctoring membawa pada satu kesimpulan sederhana. AI tidak menggantikan manusia. AI memperkuat kemampuan manusia. AI dapat mengamati peserta dalam jumlah besar. AI dapat mencatat aktivitas. AI dapat menemukan indikasi yang perlu diperhatikan. AI dapat membantu melakukan verifikasi identitas.
Tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mengambil keputusan, dan memberikan bantuan ketika peserta menghadapi masalah. Karena itu, keberhasilan AI proctoring bukan hanya diukur dari seberapa pintar algoritmanya. Keberhasilan juga ditentukan oleh seberapa baik teknologi tersebut bekerja bersama manusia dan mampu beradaptasi dengan kondisi nyata.
Dan itulah pengalaman yang terus dibangun Amanin melalui berbagai implementasi dengan perguruan tinggi, perusahaan, lembaga pendidikan, dan organisasi lainnya. Dari ITB hingga IPB. Dari UI hingga Telkom University. Dari FTMD hingga Schoters. Dari ujian dengan ratusan peserta hingga ribuan peserta. Setiap implementasi memberikan pelajaran baru. Setiap pelajaran melahirkan perbaikan.
Dan setiap perbaikan membawa Amanin semakin dekat pada satu tujuan: Membuat ujian online bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga aman, scalable, nyaman, dan dapat dipercaya. Karena pada akhirnya, teknologi proctoring bukan tentang seberapa banyak peserta yang dapat diawasi. Teknologi proctoring adalah tentang seberapa besar kepercayaan yang dapat dibangun terhadap hasil sebuah ujian.